Janji
Jessica ....
Janji
adalah sebuah ungkapan atau omongan yang perlu di pertanggung jawabkan, karena
di saat kita sudah berjanji. berarti kita harus siap dengan apa yang kita
janjikan.
Seperti
kata pepatah “Janji adalah hutang” artinya janji sama dengan uang, saat kita
berhutang dengan orang lain, kita harus segera melunasinya. Begitu pula dengan
janji, jika kita sudah berjanji dengan orang lain kita harus menepatinya.
Bicara
soal janji, Jessica teringat akan janji pada temannya sewaktu sekolah
“Hai
Jess!!” Suara itu mengagetkan jessica yang saat itu masih melamun di kursi, ya
beginilah. jessica memang kadang suka melamun sendiri di kelas saat istirahat
sekolah hampir selesai.
“Iya
apa Din, ada apa?” jawab jeje sedikit kaget dengan sapaannya tadi. Namanya
Dina, Ia teman jeje bisa juga disebut
sahabat jeje, kadang dia yang slalu bisa mengerti jeje.jeje memang anak yang pendiam dan tidak mudah akrab dengan
yang lain. tapi menurut jeje, dina berbeda, jeje sangat nyaman berteman dengannya.
“Tak
apa kok, kamu melamun saja sih !” Ucapnya sambil menyindir
“Kyak
gak tau aku saja kamu Din!” Jawab jeje tanpa basa basi.
“Oh
iya, nanti jadi pulang bareng ya jess?” Tanyanya dengan senyuman yang sangat
mencurigakan bagi Jessica waktu itu. “iya!” Jawab jeje pendek menegaskan
janjinya Dina pun tersenyum balik , mereka saling balas senyuman.
***
Teet..
Teet..
Teet..
Suara
itu tak asing lagi, bel tiga kali adalah pertanda bahwa pelajaran telah
selesai. jeje pun bersiap untuk pulang, tapi dia tidak lupa akan janjinya tadi ….
“Oooiii
Je!” Suara itu terdengar lagi ditelingan
jeje
“ayo
kita pulang!” Ujarnya sambil menyeret jeje keluar kelas.
“ Eh,
tunggu sebentar! Jangan terburu buru”
kata jeje sambil membetulkan tasnya
“Ayo
cepat ikut aku ….!” ujarnya dengan senyuman licik
“Mau
kemana sih?” kata jeje dengan penuh penasaran.
“…?” Ia
diam dan tak terjawab pertanyaan jeje sama sekali, tapi dia masih memegang
tangan jeje dengan penuh semangat, seperti ingin menunjukkan sesuatu kepada
jeje
“Kita
sampai di taman Je….” Langkah mereka terhenti disana.
“Coba
lihat ulat kecil yang ada di bunga itu Jess…” Ujarnya sembari jari jemarinya
menunjuk ke arah bunga ditaman.
“Iya,
terus kenapa?” Tanya jeje yang tak mengerti apa maksudnya.
“Lihat,
lihat itu. ulat itu kecil, tapi ulat itu terus berusaha agar bisa jadi
kupu-kupu cantik yang dapat terbang bebas..” Jelasnya pelan-pelan dengan penuh
pengertian.
“Kamu
juga Jess.., kamu harus bisa jadi yang terbaik ya. wujudkan semua Impianmu !”
Ujarnya dengan tersenyum dan penuh semangat.
“Kamu
benar sekali Din, aku harus bisa.” Jawab jeje sedikit tertunduk.
“Janji
ya?” Ujarnya dengan mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil.
“Iya, aku
berjanji !” Jawab jeje tersenyum,
“Baguslah
kalau kamu udah ngerti, ayo kita kesana.!” Ujarnya sambil menyeret jeje lagi.
Setelah
itu, Jeje dan Dina hanya duduk manis dengan melihat suasana Taman yang sangat
indah.
***
Terik
matahari tiba, pagi pun mulai terang. Seperti biasa Jeje langsung beranjak
untuk berangkat sekolah.
Setiba dikelas. “Eh, dimana Dina ya?” jeje bertanya dalam hatnyai. diapun langsung beranjak ke kelas untuk mencari dina teman baiknya..
Setiba dikelas. “Eh, dimana Dina ya?” jeje bertanya dalam hatnyai. diapun langsung beranjak ke kelas untuk mencari dina teman baiknya..
“Hai,
apa kau lihat Dina?” Tanyanya pada teman Dina.
“Dina
tidak masuk, katanya kemaren dia habis kecelakaan.” Jawab teman Dina.
“Apa?,
yang benar?. Terus sekarang ia dimana?” sekitika wajah jeje gelisah.
“Ia
sekarang masih di rawat di rumah sakit, ini alamatnya. Coba kau lihat !”
Jawabnya dengan menunjukkan selembar kertas yang berisikan sebuah alamat.
“Baiklah,
Terima kasih. Nanti aku akan melihat keadaannya.” Kata jeje sambal berterima kasih.
Biasanya
sepulang sekolah jeje selalu ditemani oleh Dina, tapi sekarang terasa berbeda
bila ia tidak ada, sungguh perasaan jeje saat itu tidak enak. Hari itu dia
(jeje) langsung beranjak ke rumah sakit yang katanya Dina sedang dirawat
disana.
Setiba
disana. “Sus, apa ada pasien yang bernama Dina?” jeje bertanya agak
tergesa-gesah.
“Iya
ada, di sebelah sana” Jawab suster tersebut dengan menunjukkan arah itu.
“Emangnya
pasien itu sakit apa sus?” jeje hanya memastikan apa benar itu kamarnya Dina.
“Habis
kecelakaan dek! pendarahan parah.” Jawab suster itu.
jeje langsung beranjak menuju kamar yang ditunjukkan suster tadi, dia lihat sejenak. “Kenapa ramai sekali?” Tanyanya dalam hati dengan penuh penasaran.
jeje langsung beranjak menuju kamar yang ditunjukkan suster tadi, dia lihat sejenak. “Kenapa ramai sekali?” Tanyanya dalam hati dengan penuh penasaran.
“Pak
ada apa ini? Bagaimana keadaan Dina?” tanyanya kepada orang-orang yang ada
disana, mungkin itu keluarga Dina.
“….”
suasana disana berubah menjadi sunyi, semua terdiam tanpa kata.
“Dina
apa yang terjadi? Mana senyuman manismu yang selalu hadir di hari-hari ku.?” jeje
bertanya kepada jasad Dina yang ternyata sudah terbujur kaku karena pendarahan
yang parah. Dan dia hanya bisa ikut menangis tanpa kata-kata lagi, namun masih
ada satu Janji yang selalu terfikirkan. Aku harus menepati janji itu.
**
Sepeninggal
Dina, jeje sekarang lebih bersemangat untuk belajar. Karena untuk mewujudkan
janji itu dia harus selalu berusaha dan terus berusaha, sampai akhirnya dia
selalu bisa menjadi bintang kelas dan mendapatkan hasil yang maksimal.
Setelah beberapa tahun, Jessica (jeje) sudah lulus kuliah di perguruan tinggi negeri. Sekarang dia sudah sukses, dalam perasaannya dia sudah menepati janjinya pada Dina. Suatu hari dia tidak lupa menyempatkan diri untuk pergi ke makam Dina, jeje masih ingat dengan kata-kata yang sangat bermakna hingga membuatku termotifasi menjadi seperti ini .
Setelah beberapa tahun, Jessica (jeje) sudah lulus kuliah di perguruan tinggi negeri. Sekarang dia sudah sukses, dalam perasaannya dia sudah menepati janjinya pada Dina. Suatu hari dia tidak lupa menyempatkan diri untuk pergi ke makam Dina, jeje masih ingat dengan kata-kata yang sangat bermakna hingga membuatku termotifasi menjadi seperti ini .
“Apa
kau masih ingat aku?” dia bertanya sendiri.
“Ku
yakin kau pasti ingat, dan kau selalu mengawasiku selama ini.”
“Kau
masih ingat apa yang pernah kau tunjukkan padaku?. Iya ulat itu, Sekarang ulat itu
sudah menjadi kupu-kupu yang cantik.” Depan batu nisannya aku bicara sendiri.
dalam hati jessica tersirat kata “Lihatlah,
aku sudah berubah. Sekarang aku seperti kupu-kupu yang dapat terbang bebas
menuju Impian.”

0 komentar:
Posting Komentar